Bayangkan di usia lebih dari satu abad—ketika raga sudah teramat lelah dan langkah kaki tak lagi tegak—Anda harus terbangun setiap pagi di dalam sebuah rumah yang kosong, sunyi, dan dingin. Tanpa anak kandung di sisi, tanpa tabungan, dan tanpa tahu hari ini bisa makan atau tidak.
Itulah garis kehidupan yang kini dijalani oleh Nenek Saripah (102 tahun) di Desa Sarimurni, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato. Saat raga masih kuat berpuluh-puluh tahun lalu, ia memeras keringat di bawah terik matahari sebagai seorang petani demi menyambung hidup. Kini, di usia senjanya yang telah melampaui satu abad, jangankan memegang cangkul, untuk berjalan saja Nenek Saripah harus bertumpu pada kedua tangannya hingga sering kali mengalami kram yang menyakitkan.

"Untuk makan sehari-hari, Nenek Saripah hanya bergantung pada kebaikan seorang warga bernama Ibu Kasiati, uluran tangan tetangga sekitar, serta bantuan pemerintah (BLT) sebesar Rp 900.000 per tiga bulan. Jika dirata-rata, itu hanya Rp 10.000 per hari—jumlah yang jauh dari kata cukup untuk memenuhi nutrisi seorang lansia."
Rumah beton yang dihuninya tampak kosong melompong tanpa perabotan hangat. Di bagian belakang, ruang dapurnya masih terbuat dari papan kayu yang mulai lapuk dan tidak terawat. Di rumah itulah ia melewati malam-malam sepi seorang diri. Beruntung, lingkungan sekitar sangat peduli dan menaruh iba, namun tetangga pun memiliki keterbatasan ekonomi masing-masing.

Selain masalah pangan, Nenek Saripah kerap mengeluhkan rasa sakit yang menusuk di ujung jari-jari kakinya serta tangan yang sering kram akibat beban tubuh saat berjalan. Di usia sesepuh ini, Nenek Saripah tidak lagi membutuhkan modal usaha, karena raganya sudah tak mampu memutar roda ekonomi. Yang ia butuhkan hanyalah kepastian hidup: makanan bergizi yang siap santap dan jaminan menjalani hidup.
Terima kasih, #OrangBaik!