Nurul Khotimah Singgili (12 tahun) adalah seorang anak yang harus menghabiskan masa kecilnya di atas tempat tidur. Terlahir dengan kondisi disabilitas berat, Nurul tak pernah merasakan indahnya berlari atau bermain. Hampir seluruh organ tubuhnya tak mampu berfungsi normal, membuatnya bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain bahkan hanya untuk sekadar berbaring.
Diagnosis Cerebral Palsy (lumpuh otak) sejak lahir telah memutus saraf-saraf motoriknya, terutama pada tangan kanan. Kondisi ini membuat Nurul sangat sensitif; suara bising sedikit saja bisa memicu kejang hebat yang membuat tubuhnya pucat membiru hingga mengeluarkan air liur. Tanpa kontrol medis rutin dan terapi saraf yang berkelanjutan, ancaman komplikasi pada organ tubuhnya akan semakin parah seiring bertambahnya usia.
Perjuangan keluarga untuk menyembuhkan Nurul telah menempuh jalan panjang sejak ia berusia satu tahun. Berbagai upaya, mulai dari medis di rumah sakit hingga urut tradisional, telah dilakukan meski hasilnya nihil. Namun kini, semua ikhtiar itu terpaksa terhenti total. Ketiadaan biaya membuat Nurul tak lagi bisa mendapatkan suntikan rutin dan terapi yang dianjurkan dokter, menyisakan kekhawatiran mendalam akan kondisi fisiknya yang kian rentan.
Sejak tahun 2024, beban berat ini dipikul tanpa kehadiran sosok ayah yang tak lagi memberi nafkah. Sang ibu harus berjuang sendiri menjaga kios kecil dengan penghasilan hanya Rp500.000 per bulan untuk menghidupi tiga anak. Begitu pilunya kondisi ekonomi mereka, hingga terkadang sang adik yang masih SD harus bolos sekolah karena biaya transportasi dan makan yang habis dialokasikan demi kebutuhan pokok Nurul seperti popok dan nutrisi.

Nurul hanya bisa berkomunikasi lewat tangis dan tawa kecil di sela-sela rasa sakitnya. Untuk makan pun, ia sangat kesulitan; harus disuapi bubur yang masih hangat, karena jika sedikit saja dingin, tubuhnya akan menolak dan memuntahkannya. Sang kakak, yang kini berjuang di bangku kuliah, turut menjadi tumpuan bagi Nurul sejak ia masih bayi. Ketulusan keluarga merawat Nurul adalah bukti cinta yang luar biasa di tengah keterbatasan.

Nurul membutuhkan uluran tangan kita untuk kembali mendapatkan hak pengobatannya. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya kontrol rutin ke rumah sakit, terapi saraf, serta pemenuhan kebutuhan harian seperti popok, susu, dan asupan bergizi. Bantuan Anda bukan sekadar materi, melainkan harapan agar Nurul tidak lagi didera kejang hebat dan bisa bertahan hidup dengan layak.
Meskipun sang kakak berupaya membantu dengan sisa uang sakunya, kebutuhan medis Nurul jauh melampaui kemampuan mereka. Dana bantuan akan difokuskan untuk biaya-biaya mendesak yang tidak ditanggung sepenuhnya, termasuk transportasi medis dari lokasi kost menuju rumah sakit serta pengobatan tradisional rutin yang sebelumnya menjadi sandaran Nurul.
Maukah sama-sama kita bantu dan temani Nurul agar bisa berobat dan sembuh dari penyakit langkanya ini? Yuk kita temani adik cantik ini bisa sembuh dan hidup seperti anak-anak lainnya, dengan cara:
Terima kasih, #OrangBaik!